Prioritas Kegiatan Program

Melatih Kader Komunitas TB

Kader komunitas adalah inti penggerak dari kegiatan Community TB Care ‘Aisyiyah. Para kader ini berada di tengah masyarakat untuk mengidentifikasi dan menemukan orang diduga TB (suspek), mendiagnosa suspek yang diduga TB secara mikroskopis di Unit Pelayanan Kesehataan (UPK) dan mendampingi proses pengobatan pasien hingga sembuh. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka calon kader harus dibekali pengetahuan dan ketrampilan melalui pelatihan kader komunitas. Pelatihan ini diselenggarakan di masing-masing kabupaten untuk kader-kader kecamatan.

Proses penjaringan dilakukan dengan ketat untuk menghasilkan kader-kader TB yang handal. Paska pelatihan, kader terus di monitor keaktifannya melalui pertemuan monitoring evaluasi yang dilakukan setiap 2 kali dalam 1 kuartal. Bagi yang performa keaktifannya rendah, dilakukan upaya melakukan kegiatan penyegaran melalui refreshing dan retraining kader komunitas. Bagi yang memiliki prestasi dalam menjalankan tugasnya, kader juga akan memperoleh reward atau penghargaan atas prestasinya. Jumlah kader komunitas yang sudah dilatih hingga akhir Desember 2014 sebanyak 8034. Dari tangan mereka inilah sebanyak lebih dari 88498 orang yang diduga penderita TB dapat dirujuk kerumah sakit. Dari jumlah itu maka sebanyak 11537 positif menderita TB. Selain itu, mulai Ronde-SSF di awal 2014, Kader TB juga bertugas mendorong semua Pasien TB untuk melakukan test HIV dan sampai akhir Maret 2015 in telah dilakukan test HIV pada 1418 penderta TB.

Pendampingan Pasien TB MDR

Akibat ketidakteraturan dalam pengobatan TB reguler, banyak pasien TB kemudian kebal obat anti TB atau yang dikenal dengan TB Multi Drug Resistent atau TB MDR. Proses dan masa pengobatan untuk TB MDR sangat berbeda dengan TB Reguler. Pasien yang dinyatakan telah menjadi TB MDR, harus menjalani pengobatan selama 2 tahun. Selama itu, pasien juga tidak hanya minum obat tapi juga injeksi.

Selain itu, belum semua rumah sakit mampu menjalani proses penyembuhan bagi pasien TB MDR. Perlu upaya kuat dari pasien agar mampu melewati masa pengobatan ini dengan tuntas. Karena jika pengobatan tidak dituntaskan maka akan menyebabkan kematian. Untuk mendukung upaya penyembuhan pasien TB MDR, maka Community TB Care ‘Aisyiyah melatih pasien Supporter untuk mendampingi pasien yang dirujuk ke rumah sakit PMDT (rumah sakit dengan pelayanan TB MDR).

Pelibatan Tokoh Agama

Kehadiran tokoh agama di tengah masyarakat Indonesia masih sangat kuat. Tokoh agama memiliki peran penting untuk mensosialisasikan program penanggulangan TB. Selain itu mereka juga dapat memberikan pemahaman dan kesadaran masyarakat utamanya dalam mempengaruhi para stakeholder baik tokoh masyarakat, pimpinan formal di berbagai level pemerintahan, ataupun tokoh lain yang dapat membantu sosialisasi program TB di tingkat komunitas.

Karenanya peningkatkan kemampuan para tokoh agama yang memiliki jama’ah / pengikut di tingkat komunitas menjadi penting. Hal ini agar komunitas yang dibina olehnya dapat memahami problem TB dan solusi penanggulangannya. Komitmen dan kemauan dari para tokoh agama untuk membantu mensosialisasikan dan mendiseminasikan informasi program secara luas kepada masyarakat khususnya di komunitas sangat dibutuhkan untuk mendukung program penanggulangan TB agar dapat berjalan dengan sukses. Hingga akhir Desember 2014 jumlah tokoh Agama yang dilatih sebanyak 2421 orang.

Melatih ”Pengawas Menelan Obat (PMO)” bagi pasien TB Positif

Pengawasan pengobatan pasien TB BTA positif baru sangat penting untuk memastikan bahwa pengobatan berlangsung dengan baik dan berhasil sampai sembuh. Untuk itu seorang Pengawas Menelan Obat (PMO) yang terlatih dan memiliki ketrampilan dalam pengawasan pengobatan pasien TB hingga dinyatakan sembuh oleh tenaga kesehatan, diperlukan demi keberhasilan memutuskan mata rantai penularan TB.

Agar PMO ini dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan benar maka pelatihan PMO menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Hingga Desember 2014, jumlah pasien yang sembuh/mendapatkan pengobatan yang lengkap sebanyak 8115 pasien (sisanya masih dalam tahap penyembuhan karena pengobatan TB memerlukan waktu antara 6-9 bulan)

Peningkatan Kapasitas Komponen Civil Society

Pembelajaran dari Ronde 8 fase-1 program Community TB Care ‘Aisyiyah menunjukkan bahwa keberhasilan dan kesinmabungan penanggulangan TB di masyarakat tidak hanya tergantung pada Tim Program. Kemampuan organisasi setempat terutama kapasitas manajerial penanggung jawab organisasi sangatlah pening. Untuk itu, penguatan kapasitas penanggung jawab organisasi secara teknis ditingkatkan sejak Ronde 8 fase-2 melalui proses pembelajaran dan berbagi pengalaman terbaik yang berasal dari kegiatan-kegiatan rutin yang telah dilaksanakan di dalam ruang lingkup program Community TB Care ‘Aisyiyah.

Untuk itu, program ini melalukan peningkatan kapasitas pengelola organisasi pendukung melalui kegiatan pelatihan Program Managemen, Fundraising, Advokasi, dan Teknik Partisipatori. Dengan ketrampilan baru ini diharapkan mereka dapat memberikan kontribusi lebih besar bagi penanggulangan TB secara mandiri di masa datang. Hingga saat ini, semua organisasi pendukung program (‘Aisyiyah dan mitra Civil Society lain), telah mendapatkan peningkatan kemampuan dalam hal Program Management dan Fundraising. Khusus untuk ‘Aisyiyah, karena perannya sebagai katalisator, maka ditambahkan peningkatan kemampuan untuk Advokasi dan Teknik Partisipatori.

Pendirian Kelompok Masyarakat Peduli TB (KMP-TB)

Kelompok Masyarakat Peduli (KMP) TB adalah strategi jangka panjang dari kegiatan penanggulangan TB yang dilakukan oleh Community TB Care ‘Aisyiyah. Melalui KMP-TB, masyarakat yang sudah terpapar kegiatan ini sebelumnya baik secara langsung atau tidak langsung dapat terus meningkatkan kepeduliannya melalui kelompok ini secara bersama-sama. KMP ini diharapkan menjadi motor penggerak dalam penanggulangan TB di komunitas secara mandiri.

KMP merupakan perpanjangan kegiatan yang selama ini diprakarsai oleh Community TB Care ‘Aisyiyah, yang secara bertahap dialihkan kepada masyarakat,sehingga prinsip “dari, oleh dan untuk masyarakat” benar-benar terwujud. Wadah organisasi ini akan merupakan salah satu exit strategi tepat untuk menumbuh-kembangkan kemandirian masyarakat dalam menanggulangi TB di Indonesia. Sampai dengan akhir Desember 2014 sudahi ada 140 KMP-TB didirikan melalui kegiatan program ini.

Meningkatkan Kapasitas Lembaga dan Tenaga Kesehatan Non Pemerintah

Kegiatan ini hanya dilakukan di Ronde 8 agar diperoleh tenaga kesehatan yang memiliki kualitas pengetahuan dan ketrampilan terkait dengan strategi DOTs karena peran mereka sangat penting untuk mendorong keberhasilan penanggulangan TB. Tenaga kesehatan harus memiliki kemampuan dalam membangun sistem pelayanan dan pengobatam pasien TB dengan menerapkan strategi DOTs yang tepat di Unit Pelayanan Kesehataan ( UPK ).

Guna meningkatkan mutu pengetahuan dan ketrampilan petugas kesehatan dalam penanggulangan TB di daerah, dilakukanlah pelatihan DOTs bagi Tenaga Kesehatan Non-Pemerintah yang bekerja di wilayah sasaran program. Selain kepada para pengelola lembaga, pelatihan juga diberikan kepada analis laboratorium agar mempunyai keahlian dalam pemeriksaan dahak di UPK sehingga tingkat analisa kasus TB menjadi semakin akurat dan tepat.

Hingga Akhir tahun 2013, jumlah tenaga kesehatan baik itu dokter maupun analis laboratorium yang telah di latih adalah 630 orang. Sementara itu jumlah UPK non-Pemerintah yang terlibat dalam kegiatan TB ‘Aisyiyah mencapaih 85 UPK. Dari 4856 kasus penderita TB yang ditemukan para kader TB Komunitas ‘Aisyiyah hingga akhir 2013, 1783 kasus dilayani pemeriksaannya lewat UPK non pemerintah.

Advokasi

Selain memperkuat struktur masyarakat dalam penanggulangan TB melalui berbagai kegiatan diatas, ‘Aisyiyah juga mendorong munculnya peran stakeholder daerah dalam penanggulangan TB. Untuk itu kegiatan advokasi secara gencar dan terencana dilakukan untuk melahirkan kebijakan –kebijakan yang perpihak pada upaya pemberantasan TB di daerah.

Upaya ini dilakukan dengan membuat analisa situasi dan policy paper tentang kondisi TB di daerah sebagai bahan lobby dengan para pengambil kebijakan seperti eksekutif, legislatif serta dunia usaha. Untuk mendorong kekuatan advokasi ini, ‘Aisyiyah juga memperkuat jejaring dengan CSO lainnya yang terkait dalam penanggulangan TB serta HIV.

Kantor PR TB 'AISYIYAH

Jl. Dukuh Patra No.25 Menteng Dalam
Tebet, Jakarta Selatan
Indonesia – 12870
Telp/Fax: 021-8296478

Tentang kami

INDUK ORGANISASI

Halaman sosial media: