Batuk 5 tahun sembuh dalam tempo 6 bulan

sakit 5 thn sembuh 6 blnNamaku Ari Saputra. Aku tinggal di bawah kaki Gunung Betung. Tepatnya di Dusun Sumber Sari, Desa Cipadang, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Namanya juga di kaki gunung, rumahku agak jauh dari fasilitas kesehatan. Jika aku mau ke Puskesmas harus melalui jalan berbatu dan kebun karet milik PTPN 7 yang cukup luas. Dengan kondisi ini, maklumlah bila aku jarang mengunjungi Puskesmas, kecuali mendesak.

Sejak duduk di bangku SMP kelas dua, aku tersiksa oleh sakit batuk. Aku rasakan bukan batuk biasa. Orangtuaku juga tidak tinggal diam. Mereka sudah berusaha melakukan pengobatan dari menggunakan jasa bidan hingga dokter di rumah sakit kabupaten. Biasanya, setelah dikasih obat, batuk mereda. Namun setelah obat itu habis, batuk ku kambuh. Semakin hari terasa semakin parah dan menyiksa. Itu aku alami hingga usiaku delapan belas tahun. Total lima tahun sudah aku terbelenggu oleh batuk ini. Orang rumah sudah terbiasa dengan irama batukku. Mereka akhirnya menganggap batuk yang aku derita hanya batuk biasa.

Sampai kemudian tanpa disangka ada kader TB Care ‘Aisyiyah dari Kabupaten Pesawaran datang sekitar April 2014. Mereka melakukan penyuluhan terkait TB. Ibuku turut menghadiri penyuluhan itu dan berinisitif menanyakan keadaanku kepada kader. Kader tersebut tertarik untuk melihat kodisiku secara langsung. Ketika mengamati saat aku batuk dan ciri-ciri yang kurang lebih sama dengan apa yang disampaikannya dalam penyuluhan, ia spontan menduga aku terkena TB. Karuan kedua orang tuaku pucat, tidak percaya. Bagaimana mungkin, dalam keluarga kami tidak ada sejarah TB.

Masih belum hilang kagetnya, kader tersebut menyarankan agar orangtua membawaku ke Puskesmas, Kecamatan Gedong Tataan. Jaraknya kurang lebih delapan kilometer dari rumah. Dia mengatakan aku perlu periksa dahak untuk mengetahui lebih jelas apa betul terkena TB atau ada penyakit lain. Esok paginya kami berangkat dari rumah menuju Puskesmas. Sampai di sana kami sudah ditunggu oleh Ibu Sulistiawati, Kader TB Care Aisyiyah itu. Sayang, aku tidak bisa mengeluarkan dahak walaupun sudah batuk berkali-kali. Aku pun disuruh pulang dengan membawa pot dahak, untuk menampung dahak esok pagi. Ia menyarankan agar aku minum teh sebelum tidur. Ketika pagi tiba akhirnya aku dapat mengeluarkan dahak. Pot sputum oleh ibu langsung dikasihkan kepada Ibu Sulistiawati yang langsung dibawanya ke Puskesmas. Selang beberapa jam, hasil lab keluar. Aku positif TB!

Ibu Sulistiawati kemudian memberikan penjelasan supaya aku minum obat teratur, jangan sampai putus. Pengobatan harus dipantau sampai sembuh. Ia juga menjelaskan efek samping obat dan masa pengobatan selama 6 bulan. Setelah itu, aku diperbolehkan pulang dengan membawa obat untuk satu minggu pertama. Beruntung, ibuku sangat telaten. Tiap kali waktu minum obat, beliau selalu ada di sampingku. Tak pernah jemu-jemu menyemangatiku agar sembuh. Bahkan, itu ia lakukan ketika aku pergi ke rumah saudara. Beliau khawatir aku telat minum obat dan harus mengulang dari awal. Setelah dua bulan pengobatan badanku sudah mulai terasa enak, dan terlihat berisi. Pengobatan terus aku lakukan hingga enam bulan.

Pada bulan Oktober 2014, setelah masa enam bulan lewat, aku melakukan cek dahak ulang. Betapa gembiranya aku, ketika hasil tes menyatakan aku sembuh. Aku ucapkan banyak terimakasih kepada Ibu Sulistiawati yang telah membantu aku dari awal pengobatan sampai dengan sembuh. Terimakasih yang tak terhingga kepada ibuku dan ayahku yang tidak pernah lelah untuk mengingatkanku minum obat. Alhamdulillah, batukku selama 5 tahun, bisa disembuhkan dalam waktu 6 bulan.

Tulis komentar

Kantor PR TB 'AISYIYAH

Jl. Dukuh Patra No.25 Menteng Dalam
Tebet, Jakarta Selatan
Indonesia – 12870
Telp/Fax: 021-8296478

Tentang kami

INDUK ORGANISASI

Halaman sosial media: